Cegah Impotensi saat Gowesata, Ini Tips Penting Menjaga Kesehatan Penis Pesepeda

Bersepeda merupakan salah satu olahraga ringan yang menyehatkan tubuh. Namun, perlu kewaspadaan yang tinggi, terutama bagi pesepeda laki-laki, karena cara bersepeda yang salah bisa menimbulkan masalah kesehatan pada penis, yaitu disfungsi ereksi atau yang disebut dengan impotensi.

Terlalu lama bersepeda membuat 20 persen laki-laki mengalami penis kebas (mati rasa). Setidaknya itu yang disebutkan dalam jurnal penelitian Acta Neurologica Scandinavica. Sementara itu, ada sekitar 13 persen lainnya bahkan mengalami impotensi yang berlangsung lebih dari tujuh hari. Kondisi gangguan ereksi ini disebabkan karena peserta mengalami kerusakan pada saraf pudendal dan jaringan kavernosa akibat terlalu lama bersepeda.

Saraf pudendal adalah saraf utama yang terletak di daerah perineum, area di antara testis dan anus, yang terlibat dalam proses ejakulasi dan orgasme pada pria. Sedangkan jaringan kavernosa (corpus cavernosa) adalah jaringan spons yang mengandung banyak pembuluh darah yang juga merupakan jaringan ereksi.

Saat duduk selama bersepeda, berat badan keseluruhan ditumpu oleh bantalan bokong. Hal ini menyebabkan terjadinya penekanan pada daerah perineum. Pada bagian perineum inilah terdapat saraf pudendal yang memasok aliran darah ke penis pria.

Jika Anda terlalu lama duduk di jok sepeda yang tidak ideal, biasanya jok sepeda yang kecil, sempit, dan memiliki “hidung” panjang di ujungnya, kondisi ini akan memberikan banyak tekanan pada saraf pudendal.

Akibatnya, aliran darah ke penis mengalami penurunan hingga 66 persen dan perlahan-lahan bisa menyebabkan kerusakan. Inilah sebabnya, penis bisa menjadi mati rasa (kebas), nyeri panggul, sulit berejakulasi, atau bahkan disfungsi ereksi (impotensi).

Efek bersepeda lainnya adalah striktur uretra, yakni suatu kondisi penyempitan pada saluran kencing (uretra) yang diakibatkan oleh adanya luka atau pembengkakan di area tersebut. Hal ini dapat melemahkan atau menghalangi aliran urine saat Anda berkemih.

Dikutip dari Columbia University Medical Center Department of Urology, striktur uretra juga dapat disebabkan oleh cedera straddle—jatuh pada bar sepeda—yang dapat melukai saluran uretra, selain dari faktor bentuk jok yang tidak ideal. Cedera ini biasanya banyak terjadi pada pesepeda BMX atau mountain bike.

Cara mencegah penis dari impotensi saat bersepeda

Foto: https://unsplash.com/@munbaik_cycling

Berikut ini ada beberapa cara untuk menjaga kesehatan penis pesepeda agar terhindar dari impotensi. Ikuti tips berikut ini.

  • Memperbaiki postur tubuh

Postur tubuh terbaik untuk menjaga kesehatan penis pesepeda adalah dengan menyeimbangkan berat badan Anda pada tulang duduk. Tulang duduk ini terletak pada area bokong yang menjadi tumpuan berat badan Anda saat duduk.

Mencondongkan tubuh ke arah depan memang dapat mempercepat laju sepeda. Sayangnya, posisi ini juga memberikan tekanan berlebih pada saraf genital. Maka untuk menjaga kesehatan penis Anda, duduklah dengan nyaman dan seimbangkan tubuh Anda sebaik mungkin. Selama bersepeda, usahakan bagian punggung Anda tetap lurus saat bersepeda untuk mengurangi tekanan pada tulang duduk.

Selama bersepeda, Anda juga bisa menggunakan celana khusus yang dirancang melindungi pinggang dan area selangkangan, sehingga dapat menjaga kesehatan penis pesepeda. Celana ini memiliki padding atau busa yang lentur dan cukup tebal, sehingga dapat melindungi saat terjadi goncangan saat bersepeda, terutama saat melalui jalan yang tidak mulus.

  • Mengubah ukuran dan tinggi jok sepeda

Bagi yang suka bersepeda, kesehatan penis Anda tergantung pada ukuran jok sepeda yang Anda miliki. Pasalnya, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Sexual Medicine Journal, ukuran jok sepeda yang lebih lebar dapat mengurangi tekanan pada area kelamin Anda.

Jok sepeda yang lebih sempit membuat penis Anda tertekan. Tekanan yang terus berulang membuat penis menjadi kebas atau mati rasa akibat terhambatnya aliran darah dan oksigen ke bagian ini. Sehingga lebih berisiko menurunkan gairah seksual Anda di kemudian hari.

Gantilah jok sepeda Anda dengan tipe tanpa “hidung” (no-nose/noseless) dan permukaan yang lebih lebar dan empuk agar tumpuan berat badan tidak menekan organ vital. Kalaupun tidak, pilihlah jenis jok sepeda dengan “hidung” yang panjangnya tidak lebih dari 6 centimeter.

Selain itu, sebuah studi yang diterbitkan oleh The Journal of Urology menemukan bahwa tinggi jok sepeda yang sama atau lebih rendah dari setang sepeda dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi. Sementara posisi jok yang lebih tinggi dari setang sepeda dapat membuat bagian bokong sedikit terangkat, sehingga mengurangi tekanan pada bagian perineum.

  • Membatasi intensitas bersepeda

Tidak ada yang salah dengan olahraga sepeda, akan tetapi perhatikan juga frekuensi yang Anda lakukan. Berikan jeda yang cukup — sekitar satu atau dua minggu — sebelum Anda mulai bersepeda lagi di lain hari.

Setidaknya, berikan ruang dan waktu yang cukup bagi organ vital Anda dari tekanan saat bersepeda. Jangan biarkan ketakutan terhadap masalah seksual memengaruhi rutinitas bersepeda. Pasalnya, bersepeda justru menurunkan risiko tekanan darah tinggi (hipertensi) yang malah merupakan salah satu faktor penyebab disfungsi ereksi.

Apabila Anda mengikuti anjuran di atas, setidaknya Anda bisa mengurangi risiko gangguan sekaligus menjaga kesehatan penis khususnya untuk pesepeda. Namun bila merasakan timbulnya gangguan, segera konsultasikan ke dokter Anda.